Secantik dan seseksi apa pun perempuan-perempuan yang pernah menjalin cinta dengannya, George Clooney hingga kini belum juga bertekuk lutut dan mengakhiri masa lajang. Menurut sejumlah pakar hubungan, Mr. Clooney -seperti juga banyak pria lainnya, kelewat serius menyikapi arti sebuah komitmen pernikahan. Akibatnya, ia justru jadi paranoid dan menghindari segala hal yang terkait dengan komitmen seumur hidup tersebut. Benarkah pria seperti itu?

Cemas Menghadapi Kata “Selamanya”
Normalnya, di dunia ini tidak ada orang yang berniat menikah hanya untuk sementara waktu saja. Apa pun yang akan terjadi di kemudian hari, ketika menikah, semua pasangan suami istri pasti berjanji akan saling mendampingi seumur hidup, alias selama-lamanya.

Selamanya? Itu berarti Anda akan tinggal bareng degan orang yang sama selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, hingga salah satu dari Anda menyelesaikan “kontrak hidup” di dunia ini. Wajah yang menghantar Anda tidur di malam hari dan bangun tidur setiap hari adalah wajah yang itu-itu juga. Anda pun mesti berbagi segala-galanya dengan pasangan, selama Anda berdua masih tinggal di bawah satu atap.

Menurut Carl Weisman, penulis buku So Why Have You Never Been Married? Pernyataan “hidup berdua selamanya” itu seringkali membuat pria jengah ketika diajak membawa hubungan pacaran ke jenjang yang lebih serius. Pada saat kaum Hawa melayang dimabuk cinta dan tidak memusingkan definisi kata “selamanya”, kaum Adam justru sebaliknya. Kecenderungan berpikir secara logis membuat mereka mencacah arti kata “selamanya” ke dalam hitungan tahun atau bahkan hari, dan membayangkan apakah dirinya mampu bertahan selama jangka waktu tersebut untuk mendampingi satu orang yang sama.

Lebih Takut Perceraian Daripada Pernikahan
Mengapa begitu cemas menghadapi kata “selamanya”? Hal ini tak lain karena seorang pria–yang terbiasa berpikir secara rasional, amat menyadari risiko yang dihadapi oleh sebuah pernikahan. Yaitu, ancaman perceraian, “Menurut sebagian besar pria lajang yang saya teliti, perceraian adalah salah satu alasan mereka takut membina pernikahan. Jadi, sama sekali bukan pernikahannya itu sendiri,” ujar Weisman.

Kok, belum apa-apa sudah takut akan bercerai? Kata Weisman, para pria yang ditelitinya menyadari bahwa di dunia ini setiap orang pasti berkembang dari waktu ke waktu. “Perkembangan itu pada akhirnya akan membuat diri seseorang berubah. Nah, para pria ini tidak yakin bahwa perubahan-perubahan  yang terjadi pada diri suami maupun istri akan tetap membuat mereka cocok untuk terus hidup bersama dengan satu sama lain,” ujarnya.

Keputusan untuk menikah atau tidak, menurut Weisman juga acap kali terkait dengan kesuksesan sorang pria di tempat kerja dan secara finansial. Keberhasilan mengaktualisasi diri di dalam karier akan membuat pria lebih percaya diri dalam menghadapi tantangan selanjutnya, yaitu komitmen. Pundi-pundi uang yang penuh juga merupakan sebuah jaminan bahwa ia akan mampu menafkahi keluarganya di masa depan.

Bersabar dan Temukan Penyebabnya
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Weisman, jumlah pria berusia 40-44 tahun yang belum pernah menikah hanya 6 persen di tahun 1980. Yang mengejutkan, jumlah itu meroket menjadi 17 persen pada tahun 2000. Artinya, tantangan bagi perempuan zaman sekarang untuk mengajak pasangannya ke pelaminan juga semakin bertambah besar.

Lantas, bagaimana cara terbaik menghadapi pria yang alergi pada komitmen pernikahan? Menurut Weisman, langkah terbaik adalah dengan bertanya dan mencoba memahami apa yang menjadi penyebab pasangan Anda menunda menikah. “Pandanglah situasi ini dari sisi positifnya. Seorang pria yang tidak terlalu gampang memutuskan untuk menikah berarti menganggap pernikahan sebagai suatu hal yang berharga dan amat penting dalam hidupnya,” ujarnya.

Tak ada salahnya untuk bersabar dan memberi waktu kepada pasangan Anda untuk berpikir ulang apakah akan tetap menunda pernikahan atau tidak. Sementara itu, lebih baik Anda mengisi waktu dengan melakukan berbagai hal yang mampu meningkatkan kualitas diri Anda sebagai seorang pribadi. Pasalnya, sebagian besar pria lajang yang diteliti oleh Weisman menyatakan akan mengakhiri masa lajangnya apabila telah menemukan pasangan yang tepat.

Makanya, ketimbang bete menanti kekasih mengubah pikiran, lebih baik Anda bersikap proaktif dan melakukan hal-hal yang diperlukan untuk menjadikan diri Anda seorang “wife material”. Kalaupun bukan si dia yang menyambar kesempatan untuk mengajak Anda ke pelaminan, di luar sana akan selalu ada pria yang bersedia membuka hatinya bagi Anda.