Ketika hubungan semakin serius menuju jenjang pernikahan, saatnya mengenal pasangan lebih jauh ke dalam dirinya. Kesesuaian pandangan dan cara berpikir akan memudahkan Anda dan pasangan mengatasi berbagai masalah nantinya.

Penelitian telah membuktikan bahwa tak ada perbedaan antara pasangan menikah yang langgeng dan mereka yang akhirnya bercerai. Keduanya sama-sama mengalami konflik dalam pernikahan. Pasangan menikah yang berhasil bertahan adalah mereka yang mampu menghadapi konflik lebih baik karena saling menerima dan mengenal pasangan lebih jauh.

Menurut Amy Spencer, pakar hubungan (relationship), sejumlah pertanyaan ini sebaiknya Anda diskusikan bersama tunangan. Tujuannya adalah untuk lebih jauh mengenal dan menerima pasangan sepenuh hati jika memang sudah telanjur jatuh cinta. Atau jika cukup berani, Anda bisa saja tak melanjutkan hubungan karena perbedaan perspektif yang dirasa tak mudah dikompromikan nantinya. Hal ini lebih baik daripada tetap menikah, tetapi Anda menyimpan masalah, bukan?

Seputar keuangan
Bagaimana cara kita mengatur keuangan? Inilah pertanyaan utama yang perlu Anda bahas bersama tunangan, lalu menentukan siapa pembuat keputusan dalam keuangan, dan apakah tunangan memiliki utang yang memberatkan.

Persoalan keuangan bukan masalah sepele. Memahami bagaimana kondisi keuangan pasangan dan kesepakatan berdua untuk nantinya mengatasi masalah keuangan akan lebih memudahkan hubungan. Dengan mengenal pasangan dan kondisi keuangannya, Anda tentu lebih bersiap berkompromi dan menjalani kehidupan pernikahan.

Seputar tugas di rumah
Siapa yang berperan mengurus rumah? Dengan dialog dan kesepakatan yang dibangun sejak awal, Anda dan pasangan takkan melemparkan tugas di kemudian hari saat sudah menikah. Membayar jasa pekerja rumah tangga atau berbagi peran demi alasan penghematan? Kedua cara ini bisa menjadi pilihan, atau Anda dan pasangan mencari kesepakatan lainnya. Apa pun pilihannya, pastikan Anda sudah mendiskusikan hal yang terkesan sepele, tetapi bisa menjadi sumber konflik rumah tangga ini.

Hubungan dengan keluarga
Sejauh mana keluarga atau kerabat bisa terlibat dalam kehidupan rumah tangga Anda nantinya? Inilah pertanyaan yang perlu juga diajukan kepada tunangan. Anda dan pasangan perlu memiliki kesepakatan bersama tentang batasan campur tangan keluarga Anda atau tunangan. Bahkan, menurut Spencer, Anda juga bisa lebih detail membahas masalah ini. Misalnya, seberapa sering sebaiknya Anda dan pasangan mengunjungi keluarga? Adakah kemungkinan nantinya orangtua tinggal bersama Anda dan pasangan, sehari, atau bahkan permanen? Hal ini perlu dibuatkan kesepakatan dan kompromi. Terutama bagi Anda pasangan mandiri yang ingin membangun dunia kecil bersama pasangan dan keturunan Anda kelak.

Soal anak
Apakah tunangan ingin segera mendapatkan anak? Berapa banyak? Apakah agama harus menjadi fondasi dasar untuk anak-anak? Haruskah salah satu dari kita tinggal di rumah untuk mengurus anak? Siapa yang sebaiknya menjalani peran ini? Inilah sejumlah pertanyaan seputar anak yang perlu disampaikan kepada tunangan.

Pertanyaan yang sama juga mungkin datang dari orang lain terhadap Anda dan pasangan. Dengan kesesuaian berpikir, Anda dan pasangan akan kompak menjawab jika pertanyaan ini diajukan. Soal anak cukup sensitif, bukan? Apalagi jika Anda dan pasangan sepakat untuk menunda kehamilan karena berbagai alasan yang sudah disepakati. Anda dan pasangan bisa merespons komentar orang lain dengan kompak jika sudah ada kompromi dan kesepakatan di awal.

Seks
Hubungan seks bagi pasangan menikah rasanya lahir alamiah nantinya. Namun, tak ada salahnya menanyakan soal seks kepada tunangan, seperti seberapa sering aktivitas seks akan dilakukan nantinya? Harapan dari setiap individu bisa disampaikan dengan terbukanya dialog. Anda, begitu pun pasangan, bisa mengetahui seperti apa kebutuhan seksualitas setiap individu. Dengan begitu, Anda lebih bisa memahami pasangan. Keharmonisan pernikahan, salah satunya juga dipengaruhi faktor seks, Anda sepakat?

Konsultasi pernikahan

Pasangan semestinya sudah siap dengan berbagai problematika pernikahan yang akan dihadapi nantinya. Bagaimana cara Anda dan pasangan untuk mengatasi berbagai masalah juga perlu dipersiapkan. Setidaknya dengan mendiskusikannya bersama tunangan. Salah satu pertanyaan yang bisa diajukan adalah bersediakah tunangan Anda mengikuti kelas konsultasi pernikahan atau bahkan terapi jika suatu ketika Anda berdua membutuhkan bantuan?

Membuka diri dengan memahami pasangan lebih mendetail berdampak positif pada kesiapan mental untuk menikah. Anda dan tunangan pun lebih siap menghadapi berbagai konflik hubungan berpasangan, kini dan nanti.