“Ayo, bilang terima kasih!” “Jalan yang tegak, jangan membungkuk!” Begitu kata-kata ibu Anda dulu ketika Anda masih kecil. Sekarang, Anda pun mengajarkan hal yang sama kepada anak Anda. Sikap sopan, hormat, kerendahan hati, atau perhatian penuh, diproyeksikan melalui berbagai gerak-gerik atau bahasa tubuh kita, baik di kelas, di tempat kerja, atau di tempat-tempat lain.

Tak peduli betapa hebatnya curriculum vitae Anda, atau betapa brilian ide Anda, bagaimana kita membawakan diri tetap lah mendapatkan penilaian yang cukup menentukan. Penelitian menunjukkan bahwa kita hanya butuh empat menit untuk membuat impresi pertama, dan, menurut studi yang diadakan Profesor Albert Mehrabiany dari UCLA, bahasa tubuh akan diperhitungkan sebanyak 55 persen. Sisanya, 38 persen berasal dari intonasi suara, dan hanya 7 persen yang berasal dari kata-kata yang kita sampaikan.

Sayangnya, menurut Carey O’Donnell, presiden Carey O’Donnell Public Relations Group yang berbasis di West Palm Beach, Fla., “Banyak dari kita yang tidak tahu bahwa bahasa non verbal kita cukup memberi pengaruh. Ada ribuan ekspresi dalam bentuk kecil, dan orang tetap bisa membaca ekspresi tersebut, meskipun mereka tidak sadar sedang melakukannya.”

Banyak dari kebiasaan ini yang sudah berurat-akar, dan meskipun kita berpikir telah menghilangkannya, kebiasaan ini akan timbul kembali ketika kita berada dalam situasi stres atau menegangkan. Contohnya, ketika kita menjadi satu-satunya wanita dalam suatu meeting, kita cenderung menjadi nervous, demikian pendapat Carol Kinsey Goman, executive coach dan penulis buku The Nonverbal Advantage. “Karena pria lebih besar dan menghabiskan tempat, mereka memiliki sikap yang asertif, dan itu menakutkan.”

Ditambah lagi, wanita juga lebih ekspresif daripada pria. Ketika kita sedang menjelaskan sesuatu dan tidak ada reaksi apa pun, kita biasanya menjadi panik, dan bersikap berlebihan. Berikut adalah bahasa tubuh yang sebaiknya kita hindari.

Terlalu banyak senyum
Tersenyum memang baik untuk membuat diri kita maupun orang lain merasa nyaman, namun banyak wanita yang melakukannya dengan berlebihan. Seringkali kita tersenyum, atau tepatnya nyengir, bila merespons sesuatu yang negatif, seperti kritik atau teguran. “Hal terpenting yang perlu diingat adalah keserasian, bahwa apa yang Anda katakan dan apa yang ditampilkan oleh tubuh saling mendukung,” kata Kinsey Goman. Jika Anda tersenyum ketika sedang memarahi seseorang, orang itu pasti tidak sadar bahwa ia sedang bermasalah, dan karenanya tidak akan menganggap Anda serius.

Menyilangkan satu tangan di depan badan
Banyak wanita yang berdiri sambil menyilangkan satu tangannya ke depan badan sambil memegang lengan satunya. Bila Anda melihatnya, apa pendapat Anda? Pasti wanita itu terlihat tidak percaya diri, bukan? “Posisi seperti ini sering dilakukan wanita, sesuatu yang mendemontrasikan kegelisahan dan kepercayaan diri yang rendah,” kata Carey O’Donnell. Lengan yang menyilang dilihat sebagai pelukan setengah, posisi nyaman yang mengindikasikan bahwa orang yang melakukannya sedang mencoba menenangkan ketegangannya.

Merapikan rambut atau memelintirnya
Percaya tidak, saat Anda bermain-main dengan rambut Anda, entah itu terus merapi-rapikannya, mengibaskan, atau memelintirnya, dapat dibaca sebagai rasa kurang percaya diri? Di sisi lain, parahnya, hal ini juga dilihat sebagai tindakan flirting atau berusaha agar seseorang memerhatikan Anda (meskipun Anda tidak menyadarinya). Tindakan lain yang menunjukkan kondisi psikologis tersebut adalah memuntir-muntir kalung, atau memegang-megang wajah. “Berbagai studi menunjukkan bahwa wanita yang senang flirting kurang mampu bernegosiasi,” ujar Kinsey Goman. “Orang yang menatap Anda mungkin akan mengajak Anda kencan, tetapi mereka tidak akan menghargai Anda.”

Pakaian yang kurang pantas
Gerakan tubuh kita bukan satu-satunya hal yang mengirimkan sinyal tanpa suara kepada rekan kerja, bos, atau klien. Atasan atau bawahan yang terlalu pendek, makeup terlalu tebal, atau parfum yang terlalu banyak disemprotkan, juga memberikan pesan bahwa Anda tak perlu dianggap serius. “Ketika Anda menonton seorang CEO wanita sedang diwawancara di TV, hal pertama yang menimbulkan komentar adalah apa yang dikenakannya,” papar Catherine Kaputa, executive coach dan penulis buku The Female Brand.

Memiringkan kepala
Memiringkan kepala sejak dulu sudah menunjukkan tanda mendengarkan, namun di dunia kerja hal ini sering pula dilihat sebagai tanda persetujuan. Gaya ini juga bisa disalahartikan sebagai persetujuan diam-diam, atau flirting. Kinsey Goman menyarankan agar kita berlatih mengatakan sesuatu di depan kaca sambil memiringkan kepala, lalu menegakkan kepala. Anda akan menyadari betapa berwenangnya penampilan Anda ketika kepala Anda tidak dimiringkan ke satu sisi.

Melipat tangan di pangkuan
Hati-hati, melipat kedua tangan di pangkuan, atau menyembunyikan tangan di bawah meja rapat, dapat merupakan sinyal bahwa Anda tidak dapat dipercaya. Di jaman kuno, pria seringkali diminta untuk menunjukkan telapak tangan untuk membuktikan bahwa mereka tidak bersenjata.