Katakanlah sampean baru saja membuat blog. Ini blog pertama sampean seumur hidup. Mesinnya baru. Desainnya ciamik. Sampean puas. Lalu dengan kemlinthi mengeluarkan sesumbar, “Ini dia blogku yang baru, blog paling keren sedunia. Yang lain silakan minggir.”
Lantas teman-teman sampean cekikikan dan ngrasani di belakang. “Halah, baru punya blog satu aja sudah bangga. Bisa nggak merawat blog selamanya?”
Sampean seperti disetrum listrik ribuan watt. Kaget, menepuk jidat, dan berteriak, “Alamak! Oh iya, bagaimana cara mengisi blogku ya?”
Sampean tak sendiri. Banyak orang yang pada awalnya begitu bersemangat membuat blog, tapi mendadak loyo begitu tahu bahwa mengurus blog itu tidak gampang. Sebagian orang menganggap blog itu sesuatu yang ternyata menguras tenaga, perhatian, pikiran, juga waktu. Dan semangat yang semula menggebu-gebu itu pun terbang entah ke mana.
Begini ya, Ki Sanak. Kalau sampean membuat blog, jangan buru-buru bangga atau senang dulu. Di luar sana, ada jutaan, mungkin malah miliaran, blog lain. Belum tentu semuanya lebih bagus ketimbang blog sampean sih. Tapi juga belum tentu lebih katro dibanding punya sampean.
Lantas bagaimana membuat blog sampean berbeda dan bertahan lama?
Seorang narablog kawakan pernah membeberkan jurus sakti. Begini katanya.
Jurus pertama: Berbagilah. Jangan pelit.
Di ranah blog berlaku hukum yang unik. Seseorang diharapkan memberikan informasi yang bernilai atawa bermanfaat. Misalnya kiat menjawab suatu masalah. Semacam tip dan trik.
Ceritakanlah tentang sesuatu yang membuat orang terhibur. Contohnya lelucon. Mungkin omongan orang yang lucu. Barangkali kejadian menggelikan yang sampean temui. Dan seterusnya.
Intinya, sampean berikanlah sesuatu. Besok, beri lagi. Lusa, berikan lagi, sebanyak-banyaknya.
Percayalah, setelah sampean memberi, besok pasti ada yang kembali. Mereka akan menginginkan sesuatu dari sampean lagi. Mereka membutuhkan sampean.
Mengapa?
Karena jika sampean itu tergolong orang yang bernilai, memiliki “sesuatu”, sampean akan menarik perhatian banyak orang. Dan banyak orang akan bersedia berbagi dengan sampean.
Itu sebabnya, atau iming-iming seperti “bisnis 5 miliar” atau “kaya dalam satu hari”, itu lebih banyak ditertawakan orang ketimbang dipercayai. Mereka bicara tentang “mengambil”, bukan “memberi” atau “berbagi”.
Jurus kedua: Santai saja.
Banyak orang terlalu serius mengelola blog, lebih serius ketimbang mengurus dirinya sendiri. Sehari semalam nyaris tak tidur, 7 hari seminggu tanpa prei, 52 pekan dalam setahun.
Itu keliru!
Rawatlah blog dengan rileks. Senang-senang saja. Jangan dijadikan beban. Mengerjakan sesuatu dengan gembira itu pasti hasilnya berbeda.
Kalau tak sempat, tak usahlah ditengok. Ada banyak hal lain di dunia ini yang menarik, dan perlu dilihat. Blog itu cuma setitik debu kehidupan.
Ngebloglah dengan santai. Gembira. Sesempatnya.
Jurus ketiga: Sabar.
Waktu awal ngeblog dulu, saya juga kesepian. Tak ada orang yang berkunjung dan membaca blog pertama saya. Tiga bulan atau enam bulan pertama ngeblog adalah masa-masa yang mengenaskan. Perih. Dan sepi.
Tapi saya cuek. Dan terus memperbarui blog. Dengan rileks. Saya menganggapnya sebagai hobi yang menyenangkan.
Ajaib. Entah bagaimana caranya, tiba-tiba ada satu dua pembaca meninggalkan jejak di kolom komentar. Statistik pengunjung juga cenderung naik. Dari yang awalnya hanya dua atau tiga pengunjung setia, lalu jadi lima. Dua bulan kemudian sepuluh, lima belas … dan selanjutnya tinggal catatan sejarah.
Kebanyakan narablog tak menunggang roket popularitas untuk menuju ke puncak. Pengunjung datang sedikit demi sedikit. Di ranah blog, keterkenalan itu berjalan seperti siput. Bersabarlah. Semua memang membutuhkan waktu.
Jika pembaca tak jua datang berkunjung, buatlah evaluasi.
Apakah sampean ngeblog untuk diri sendiri?
Apakah sampean lebih banyak bercerita tentang masa kuliah yang ndak kelar-kelar?
Apakah cerita sampean hanya menarik sampean sendiri?
Apakah sampean tak membantu orang lain mendapatkan sesuatu?
Apakah hanya sampean yang merasakan manfaat dari tulisan sampean?
Kalau jawaban semua pertanyaan itu ya, sebaiknya sampean melakukan perubahan sekarang juga.
Jurus keempat: Jadilah diri sendiri.
Suatu kesalahan besar kalau sampean ingin menjadi seperti saya, atau Paman Tyo, atau Enda Nasution. Keinginan itu mustahil terpenuhi. Sampean tak akan menjadi seperti siapa pun. Sadarilah itu dan terima sebagai kelebihan. Justru dengan perbedaan itulah setiap individu itu unik dan khas.
Sampean pasti punya gaya dan cara berbeda. Kembangkanlah kebisaaan dan kebiasaan sampean sendiri.
Sampean boleh saja merasa terinspirasi atau terpengaruh oleh seseorang. Tapi kemudian buatlah perbedaan. Dengan cara sampean sendiri.
Jurus kelima: Buanglah sikap egosentris.
Pernah kumpul-kumpul dan mendengar seseorang nyerocos terus menceritakan dirinya sendiri tanpa henti? Di setiap reriungan atau pesta selalu saja ada orang seperti itu. Orang itu sibuk dengan dunianya sendiri. Peduli setan orang lain.
Pernah ngobrol dengan seseorang yang tak henti-hentinya bercerita tentang rumah barunya di Pondok Indah? Tentang mobilnya? Tentang tas LV dan sepatu Manolo Blahnik-nya? Saking menggebunya, dia bahkan tak pernah memberi sampean kesempatan bertanya atau menawarkan secangkir cappucino. Padahal sampean sudah ngantuk.
Jangan sampai sampean seperti orang itu. Buatlah blog sampean itu sebagai ruang. Tempat sampean memberi. Bukan promosi diri sendiri.

Iklan